Perjuangan Melawan Jerawat

Holaaaaa…

Udah lama banget ngga nulis lagi karena sibuk sendiri sama beragam urusan. Yeap, kesibukan di tahun ini akhirnya mempertemukanku pada yang namanyaaaaa….. JERAWAT!

Huh! Akhirnya ngerasain kondisi lagi mesra-mesranya dengan jerawatan itu benar-benar bikin ngga pede karena memang sebelumnya sama sekali ngga pernah jerawatan. Aktivitas kerja, kuliah tingkat akhir, dan nyusun skripsi dimana jam tidur benar-benar ngga teratur (paling cepat tidur jam 1 malam, dan bangun jam 5 pagi) akhirnya menjadi penyebab munculnya si musuh satu ini.

Jadi, tulisan kali ini bakal menceritakan gimana caranya melawan musuh kecil itu. Pertama-tama, ini adalah foto real face, no edit dan cuma pake bedak bayi  (dari dulu emang sukanya pake bedak bayi).

img_3026

Sebelum jerawatan

Di foto itu ngga ada jerawat dan dalam waktu singkat karena pola tidur dan pola makan yang ngga jelas….. akhirnya jerawat mulai bermunculan. Okelah, karena sebal sama satu dua jerawat yg muncul di awal, apa daya, jari ini tak kuasa menahan gemas untuk mencetin satu persatu jerawat, dan akhirnya jadilah semakin banyak si krucil krucil itu dan jadi seperti ini.

img_8587

Panen jerawat, mbak?

Pic di atas masih mending, karena jerawat belom purging. Duh, mau upload foto pas jerawat lagi purging tapi maloeee hahaha karena kulit wajah hancur dan kusam banget.

Beberapa temen sih kasih saran buat ke dokter kulit, tapi berhubung seorang Arin terkadang idealismenya berlebihan, dimana ngotot banget ngga mau ke dokter wajah, alhasil berbekal kuota internet, coba-coba lah dengan sotoynya cari info pengobatan jerawat pakai cara alami. Nah ketemulah artikel tentang Daun Binahong yang katanya ampuh buat membasmi jerawat dengan cara ditumbuk dan dijadikan masker.

http://caratipscantikalami.blogspot.co.id/2014/07/cara-menggunakan-daun-binahong-untuk.html

Well, kesotoyan berlanjut, akhirnya beli daun binahong dengan cara online. Dan hasilnyaaaaa… ZONK! Ntah kulit yang ngga cocok atau emang lagi sial, ehh malah muka rasanya jadi gatal-gatal.

img_6930

Maskeran pakai daun binahong

Oke dalam hati bilang, “Arin, jangan nyerah, pasti ada cara alami tanpa harus membiarkan wajah kena produk berbahan kimia dari dokter” (kesotoyan masih berlanjut). Kali ini googling based on website US dimana katanya Apple Cider Vinegar (ACV) atau bahasa Indonesianya tuh cuka apel ampuh buat membasmi jerawat. Akhirnya coba-cobalah buka link http://www.acne.org, trus buka youtube dan nonton video tutorial dari orang US tentang penggunaan ACV secara alami untuk membasmi jerawat. Setelah itu, (kesotoyan masih berlanjut) memutuskan untuk beli ACV merk Bragg. Harganya sekitar 150rb rupiah dan beli di lazada.

bra-00116-0

Akhirnya pakai ACV sebagai toner selama hampir 2 minggu. Wuaaaah it really works!!! Jerawat mengering seketika. Memang tersiksa sih pas dipakainya sebagai toner di wajah, karena perih banget dan baunya menyengat. Tapi memang ampuh banget bikin jerawat kering. Yah tapi apa daya, kegemasan untuk ngopek-ngopekin jerawat yang mulai kering pun tak terbendung oleh jemari ini hahaha, hasilnya malah bikin acne scars atau dark marks bekas jerawat tetap tinggal di wajah.

Tapi tenang, hanya dengan peeling bisa menghilangkan acne scars itu kok. Emang sih peeling mengharuskan untuk ke dokter wajah, tapi itu ngga bikin wajahmu kecanduan obat-obat dokter. Dan sekarang Puji Tuhan kulit wajahku udah mulai kembali seperti semula tanpa harus keluar banyak biaya ke dokter dan yang penting adalah ngga kecanduan obat dokter.

Jadi intinya, yang alami emang lebih aman dan memang harus sabar menunggu prosesnya. Oiya, satu lagi, sotoy itu terkadang perlu lhooo :p

whatsapp-image-2016-10-20-at-3-55-09-pm-1

Foto wajah tanpa make up dimana acne scarsnya mulai pudar

Soooooo…. Good bye Acne! Semoga tulisan ini  bermanfaat buat teman-teman yang lagi mesra-mesranya dengan jerawat :p

What is Happiness?

It’s a beautiful speech by Sundar Pichai – an IIT-MIT Alumnus and Global Head Google Chrome:
The Cockroach Theory for Self-Development.

    
At a restaurant, a cockroach suddenly flew from somewhere and sat on a lady. She started screaming out of fear. With a panic stricken face and trembling voice, she started jumping, with both her hands desperately trying to get rid of the cockroach. Her reaction was contagious, as everyone in her group also got panicky. The lady finally managed to push the cockroach away but …it landed on another lady in the group. Now, it was the turn of the other lady in the group to continue the drama. The waiter rushed forward to their rescue.

In the relay of throwing, the cockroach next fell upon the waiter. The waiter stood firm, composed himself and observed the behavior of the cockroach on his shirt. When he was confident enough, he grabbed it with his fingers and threw it out of the restaurant.

Sipping my coffee and watching the amusement, the antenna of my mind picked up a few thoughts and started wondering, was the cockroach  responsible for their histrionic behavior?
If so, then why was the waiter not disturbed? He handled it near to perfection, without any chaos.

It is not the cockroach, but the inability of those people to handle the disturbance caused by the cockroach, that disturbed the ladies.

I realized that, it is not the shouting of my father or my boss or my wife that disturbs me, but it’s my inability to handle the disturbances caused by their shouting that disturbs me.

It’s not the traffic jams on the road that disturbs me, but my inability to handle the disturbance caused by the traffic jam that disturbs me.

More than the problem, it’s my reaction to the problem that creates chaos in my life.

Lessons learnt from the story:
I understood, I should not react in life. I should always respond.
The women reacted, whereas the waiter responded.
Reactions are always instinctive whereas responses are always well thought of.

A beautiful way to understand life is:
Person who is HAPPY is not because everything is RIGHT in his/her life. He/she is HAPPY because his/her attitude towards everything in his/her life is right 🙂

Transportasi Umum VS Masker

Transportasi umum vs masker, apa sih maksudnya?

Buat yang sering menggunakan transportasi umum pasti tau fungsinya. Kata banyak orang sih masker berfungsi untuk melindungi diri dari polusi udara. Tapi buat saya lebih dari itu. Jadi buat apa yaa…

Well, di Jakarta kalau tiap hari bawa kendaraan itu puegeeeel banget, apalagi kalo cewe-cewe yang nyetir manual, bawaannya pengen makan orang tiap ketemu macet hahaha.
Ngeluh terus dengan macetnya Jakarta sama sekali nggak membantu menyelesaikan masalah. So, beralih ke transportasi umum jadi jawabannya!

Memang sih transportasi umum di Jakarta banyak yang nggak nyaman dan nggak aman. Apalagi sebagai perempuan yang aktivitasnya baik kerja maupun kuliah menuntut untuk pulang malam, duhhh rasanya harus sering curigaan sama orang yang sering ngeliatin dengan tatapan “beda”. Kerasnya Jakarta menuntut perempuan zaman sekarang untuk bisa jaga diri (at least bisa karate atau nonjok orang deh). Trus kaitannya sama masker apa? Hahahaha jadi ngalor ngidul ini pembahasan.

Oke deh, buat saya pribadi sih masker berfungsi banget buat menghindar dari situasi diisengin cowo-cowo nggak jelas. Apalagi dari abang-abang yang hobby nya godain cewe-cewe di jalan a.k.a catcalling (Fyi, catcalling termasuk dalam sexual harrasment lho). Selama ini setiap menggunakan transportasi umum seperti angkot, gojek, atau busway sekalipun, saya nggak pernah lupa buat pakai masker. Setidaknya saat sebagian wajah tertutupi, niat orang iseng buat usil mungkin bisa berkurang, tapi ini sih based on pengalaman saya. For me, it really works!
Selain menghindari dari orang usil yang jumlahnya sudah tak terbendung di Jakarta, masker juga bisa melindungi image kita pas lagi ketiduran di angkot atau busway. Ga mau dong orang lain ilfeel sama kamu karena kamu tidur mangap di angkot/busway? Hahaha tengsin cyiiiin!! (untung gue tidur nggak mangap, Lol)

So, terima kasih untuk penemu masker!  😀

image

The Impacts of Regional Integration For Indonesia’s Sovereignty

written by: Arini Agustina Silalahi

Internationalism

            “We human beings are social beings. We come into the world as the result of others’ actions. We survive here in dependence on others. Whether we like it or not, there is hardly a moment of our lives when we do not benefit from others’ activities. For this reason, it is hardly surprising that most of our happiness arises in the context of our relationships with others.” – Dalai Lama.

That is one of the best quotes that describes of human beings. Many people agree with Dalai Lama’s quote. This agreement is reflected from the decision to make many countries integrated. Well, we call it Regional Integration. Adding this quote does not mean that making regional integrated always give benefits. Too many impacts that people should face when their country integrated with others. The problem is, Are we ready to face this regional integration? Will the regional integration give impact for our country’s sovereignty?

Being integrated with other countries such as The European Union (EU) and ASEAN Economic Community 2015 (AEC 2015) is not really easy for the country that not ready in many aspects and also for developing country like Indonesia. Based on the countries in EU that already faced regional integration, Indonesia should learn many things to prepare AEC 2015 (AEC will be started on December 31, 2015). If Indonesia is still not ready, it will give Indonesia many problems.

The implementation of AEC 2015 will give the impact for human recources in many countries. AEC 2015 will open the labor market. The competition of college graduates to obtain employment will increase. Higher education plays a role in producing graduates who are competent with a standard that refers to the international community. If we compare the educational level between Indonesia to other ASEAN countries, Indonesia is not yet can match it. Most of Indonesian as human resources finish their study only in secondary school level, whereas human resources from other ASEAN countries finish their study in bachelor degree level. The government need to focus on this problem. If not, the unemployement rate in Indonesia will increase higher than before.

Based on that problem, acceleration to produce skilled manpower is one important condition for Indonesia to compete. It is necessary synergy conducted jointly with the business community, government, and universities to improve the quality of our human resources. In addition, all of Indonesian people need to know how to communicate in English to face the labor market. Skill in English language, both written and oral are the things that must Indonesian have as language introductory in working and business process. But in fact, not all Indonesian can speak and write English well.

In facing regional integration AEC 2015, English language is important to learn but we should not forget to use Bahasa Indonesia as our mother language. The sovereignty of our country, in this case is our mother language, should can be maintained when doing business in Indonesia. When AEC 2015 starts, a lot of foreigners will come to Indonesia. It is better when foreigners who want to work and invest in Indonesia can speak and write in Bahasa Indonesia. It can help our mother language still exist in our country. So, the government’s policy is important to make it real.

The regional integration will make foreign investors interested to come to Indonesia because Indonesia is a potential market to invest. So, how is the fate of Indonesian entrepreneurs? As we know, there are a lot of entrepreneurs in Indonesia. Most of them are micro-entrepreneurs. In facing regional integration AEC 2015, we should know that many products from other ASEAN countries will be imported to Indonesia and free trade will start soon. Micro-entrepreneurs and also their local products now are being threatened. Those who can handle this business threat will survive. But it is not really easy. Why? Because we do not have to wait until AEC 2015 start to see the fact of how big the problem of micro-entrepreneurs should face. Now, we can find a lot of products which are from China with low prices in Indonesia, and this is a big threat for Indonesia’s entrepreneurs. Their main source of money that help them just to survive in facing life is in a problem.

The other impacts are waiting for us if we as Indonesian are not ready to face this regional integration. Do not we realize that regional integration will give us many internal and external conflicts?

Being integrated with AEC 2015 means that we should ready to face internal conflicts that might happen. Indonesia is a country of cultures and the cultures here are very viscous. To be integrated with other countries, we should try to accept new cultures without leaving our own old culture. But in fact, a cultural shift can not be avoided. We might start forgetting our old culture when the new culture coming.

Not only a cultural shift, but also people who are not open-minded can make internal conflicts that might be happened when regional integrated. This type of people usually do not want to know new things and have potential to be racist when facing new people from other countries. They also can not integrate with new people and like to see new things negatively. That can be a bomb and make internal conflicts more severe. The government should pay attention to this problem.

The government also must pay attention to the external conflicts that might be happened. Indonesia has many interesting cultures and it should be protected. If not, the AEC 2015 will make our cultures are claimed easily by other country. Cultural conflicts from external that have potential to happen include a claim arts, foods, traditional clothes, and our island or area. This kind of conflicts from regional integration are possible to disrupt our country’s sovereignty.

Regional integration also give impacts for our sovereignty in export and import goods. If we compare between export and import, the level of import goods in Indonesia is far more than the export goods level. Indonesia always depends on other countries to supply many things while Indonesia is rich of natural recources. It happens till now when the regulations of export and import are strict. It will get worse if Indonesia can not start to be more independent and produce goods without importing from other countries, because Indonesia is really a rich country. If Indonesia can not start to do it, the regional integration will make the level of import goods in Indonesia will be higher than before.

So, do not we want to make our country still has its sovereignty in facing the regional integration of AEC 2015? If yes, let’s make a change together. If there is a country that can live without other country, it should be Indonesia because Indonesia is really a rich country and Indonesia has everything inside. But the condition right now is different as we wish to be. The quality of human resources is the most important thing that should be increased. After that, it is possible to transform from developing country to developed country and we will not see the regional integration AEC 2015 as a threat.

Be Thankful

“Kenapa sih hidup ini selalu bermasalah”. “Kenapa sih satu masalah selesai, akan datang lagi masalah berikutnya”. “Andai aku jadi dia pasti enak ya hidupnya adem-adem aja”.

Statement kayak gini sering banget nih saya denger dari beberapa teman.

Hmm… Ini adalah pemikiran saya. Disaat lagi menghadapi masalah, please jangan pernah compare proporsi masalah yang kamu hadapi dengan masalah yang teman kamu hadapi kalau ujung-ujungnya hal itu hanya bikin kamu makin down. Permasalahan hidup seseorang itu berbeda-beda, tergantung porsinya. Kamu ngga akan pernah bisa bilang, “enak ya jadi dia hidupnya mulus-mulus aja, kayak ngga ada masalah”.

Guys, you don’t know how big other problem is! There are some people who don’t want to share their own problem. So, don’t ever say “my life is worse than others”. Berusahalah untuk selalu bersyukur ditengah masalah yang kamu hadapi karena mungkin saja hidupmu masih jauh lebih baik dari orang lain yang berada diluar sana.

Be thankful for what you have. If you concentrate on what you don’t have, you will never, ever have enough.

Mau Banyak Dapat Diskon Saat di Eropa? Bisa kok!

Tulisan ini semoga bisa membantu kamu yang mempunyai rencana untuk bepergian ke luar negeri, khususnya ke negara-negara di Eropa. Lumayan banget bisa dimanfaatkan untuk mengirit keuangan saat disana 😀

Mungkin ada beberapa dari kamu yang belum tahu apa itu International Student Identity Card (ISIC)?

IMG_2571

Well, ini kartu cukup ajaib dan bermanfaat untuk aku saat aku lagi nggak di Indonesia. Bagi kamu pelajar atau mahasiswa, Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) asal Indonesia biasanya ngga diakui di berbagai negara di Eropa. So, kamu ngga bisa dapat diskon dengan menunjukkan KTM kamu saat di negara tujuan. Nah, ini dia fungsinya ISIC…

Dengan menunjukkan ISIC, itu artinya kamu diakui sebagai pelajar/mahasiswa secara Internasional. Contohnya sewaktu aku lagi di Moscow dan Saint Petersburg, dengan menunjukkan ISIC, aku bisa keluar masuk berbagai museum dengan diskon yang lumayan besar, bahkan bisa gratis (tergantung kebijakan museumnya). Ngga cuma untuk tiket masuk museum aja, saat membeli tiket transportasi seperti train atau metro, ISIC juga bisa digunakan untuk dapat diskon harga mahasiswa (sebagai mahasiswa Ekonomi, aku harus bisa mengatur keuangan dengan baik. Hitung-hitung sekalian belajar jadi ibu rumah tangga yang bisa mengelola keuangan #lah #jadicurhat, hahaha)

Aku bikin ISIC di STA Travel yang lokasinya di daerah Kuningan, tepatnya di Allianz Tower disamping gedung KPK. (waktu dulu aku beli tiket pesawat dan travel insurance di travel itu, jadi sekalian bikin ISIC deh). Biaya bikin ISIC cuma 200ribu rupiah. I guess with that price, you can get more benefits. Anyway, I am not their marketer lohh hahaha, just want to share what i know :p

Ini websitenya, setau aku bisa juga bikin secara online:  www.isic.co.id

Semoga bermanfaat! 🙂

Internasionalisme dan Indonesia

Manusia adalah makhluk yang bersekutu. Kalimat ini tepat menggambarkan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Bagi seseorang, dirinya akan sangat membutuhkan usaha besar dan sekalipun usahanya besar, belum tentu dia mampu memenuhi seluruh kebutuhannya jika semua hal dilakukan sendiri. Gambaran ini serupa dengan suatu negara. Menjadi bagian dari kumpulan negara-negara di dunia, suatu negara harus memiliki kepercayaan bahwa negaranya dapat memperoleh manfaat lebih besar dengan bekerja sama dengan negara lain dan saling mengerti satu sama lain tanpa adanya perselisihan dan perang. Inilah Internasionalisme.

Paham internasionalisme adalah hal krusial yang harus dimiliki suatu negara dalam berdiplomasi. Mengapa? Ya, inilah paham yang sebaiknya harus tertanam dalam diri manusia di negara manapun. Dunia sekarang ini adalah dunia global. Kalimat “what you take is what you give” adalah benar adanya. Kalimat itu tidak dapat terealisasikan tanpa adanya diplomasi. Berdiplomasi tanpa tertanamnya paham dan rasa internasionalisme bagi suatu negara hanya akan berdampak pada perselisihan.

Hidup dan berkembang dengan memiliki latar belakang pandangan sesuai pandangan dan budaya Timur, bukan tidak mungkin rasa internasionalisme itu dapat bertumbuh dalam diri bangsa Indonesia. Keterbukaan akan dunia internasional adalah penting, tetapi jauh lebih penting mempertahankan rasa nasionalisme yang ada. Internasionalisme dan nasionalisme tidak dapat disejajarkan, tetapi dapat berjalan secara bersamaan untuk mencapai suatu hal yang belum pernah dicapai oleh bangsa yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya, yaitu kemakmuran. Sulitnya hidup makmur untuk dirasakan masyarakat Indonesia, menjadikan Indonesia tak ayal selalu bergantung dengan negara lain. Hal ini dilakukan untuk setidaknya memperoleh hidup yang hanya sedikit makmur. Ya, miris memang.

Zaman berkembang dan globalisasi semakin merajai dunia. Urusan internasional adalah urusan yang tidak bisa lepas dari era sekarang ini. Menjadi negara yang memiliki peran besar di dunia bukanlah tentang seberapa besar kekuasaan negara itu, tetapi seberapa mampu negara tersebut berperan dan merangkul negara lain dengan menerapkan rasa hormat serta saling menghargai. Itulah bangsa yang besar.

Kehidupan Indonesia sekarang ini belum tentu menjadi refleksi kehidupan Indonesia di masa mendatang. Bukan tidak mungkin negara kita akan memiliki peran besar bagi negara-negara lain di dunia di abad ke-21. Mengelola dan mengembangkan seluruh sumber daya yang dimiliki Indonesia memang bukan perkara mudah, tetapi juga bukan perkara sulit ketika Indonesia mau berpikir lebih terbuka untuk melihat luas dunia luar. Membuka mata untuk lebih berkembang adalah hal yang penting untuk dapat bertahan di era global seperti sekarang ini. Persaingan bukan tidak mungkin menjadi semakin ketat di masa mendatang. Upaya bersaing untuk lebih menunjukkan kekuasaannya diantara negara-negara lain dapat terlihar jelas di beberapa negara sekarang ini. Perspektif inilah yang perlu dirubah. Kemajuan suatu negara adalah saat dimana negara tersebut dapat merangkul negara lain untuk dapat berkembang dan maju bersama. Disinilah peran mengapa rasa internasionalisme itu penting. Negara bisa maju bukan dengan perang kekuasaan, tetapi dengan rangkulan dan pemahaman untuk pentingnya saling bekerja sama.

Jika ada pertanyaan, “Apakah Indonesia sudah siap untuk mengahadapi globalisasi?”, tentu dengan lantang saya menjawab “belum siap”. Indonesia masih jauh dari kata siap untuk hal itu. Indonesia masih belum mampu mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia begitu banyaknya di tanah Ibu Pertiwi. Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alamnya, tetapi ketidakmampuan sumber daya manusia asli pribumi memberikan peluang bagi warga asing untuk mengelolanya. Meminta bantuan negara lain untuk turut membantu mengelola sumber daya alam di negara kita memang bukan suatu kesalahan, selama hal tersebut sifatnya untuk memacu agar warga Indonesia yang sebelumnya tidak mampu mengelolanya menjadi mampu. Kenyataannya justru berbeda, bukannya sumber daya manusia di Indonesia menjadi mampu, tetapi justru menjadi ketergantungan. Hal ini yang membuat Indonesia justru menjadi buruh di negeri sendiri.

Sungguh menyedihkan jika melihat kenyataan dimana kekayaan alam Indonesia yang terbentang begitu luasnya tidak diberdayakan dengan bijaksana oleh berbagai pihak. Keuntungan besar yang seharusnya bisa kita dapatkan untuk menunjang pembangunan nasional negara kita, seolah hanya menjadi harapan yang kita gantungkan pada negara lain yang dapat mengelolanya. Amerika, Jepang, dan negara maju lainnya telah banyak yang berinvestasi di Indonesia. Hal ini seharusnya menjadi cambuk bagi Indonesia untuk semakin menyerap ilmu dari negara-negara tersebut untuk bisa diterapkan di negara kita agar kita bisa merealisasikan harapan untuk berdikari, dan lebih jauh berkembang dari sekarang ini, serta dapat siap memasuki kehidupan global.

Internasionalisme telah salah kaprah diartikan oleh masyarakat Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia hanya melihat bahwa paham internasionalisme dapat merusak budaya bangsa karena hanya akan membuat budaya barat masuk ke Indonesia dan Indonesia akan dikuasai asing. Perspektif ini sebaiknya harus kita ubah bersama. Jika kita terus berpikiran seperti ini, Indonesia tidak akan bisa berkembang. Banyak hal perlu dipelajari oleh bangsa Indonesia untuk lebih berpikiran terbuka. Kesalahan yang ada bukan masuknya investor asing di Indonesia, tetapi sumber daya yang dimiliki Indonesia masih terbatas, khususnya sumber daya manusia yang terlena dan ketergantungan dengan pihak asing. Jika saat investor asing membantu Indonesia dan Indonesia dapat belajar dari pihak asing tersebut serta menerapkannya sendiri agar tidak menjadi ketergantungan, saya meyakini bahwa hal itu dapat merealisasikan harapan bangsa Indonesia untuk dapat hidup berdikari. Nyatanya, hal tersebut masih hanya sebatas harapan belaka.

Kunci dari kesiapan Indonesia memasuki era globalisasi adalah pada manusianya. Untuk mencapai kemakmuran masyarakat dan kemajuan Indonesia adalah manusia yang berkualiatas. Berkali-kali rasanya tidak cukup untuk mengutarakan bahwa manusia adalah asset terpenting yang dimiliki oleh suatu negara. Berlimpahnya sumber daya alam dan sumber daya lainnya tanpa berkembangnya sumber daya manusia adalah sia-sia. Sama seperti sebuah perusahaan bisnis, penggerak utama untuk memperoleh banyak keuntungan adalah karyawannya. Sayang sungguh sayang, di Indonesia justru tidak jarang kita temukan perlakuan yang tidak memanusiakan manusia. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa manusia adalah asset suatu negara untuk bisa berkembang menjadi negara maju.

            Berbagai cara perlu dilakukan untuk memajukan sumber daya manusia di Indonesia. Faktor pendidikan, pelatihan, dan pengembangan diri sangat perlu diberikan oleh pemerintah bagi masyarakatnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya bukanlah masyarakat yang tidak dapat bersaing dengan masyarakat di negara maju. Tidak jarang dapat kita jumpai beberapa tokoh cerdas yang berasal dari Indonesia, tetapi jumlahnya masih terbilang sedikit. Disinilah peran pemerintah untuk turut serta mengembangkan potensi yang dimiliki masyarakatnya. Selain itu masyarakat juga harus lebih belajar dan terbuka dalam berpikir serta lebih luas memandang dunia luar sehingga paham internasionalisme dapat tertanam tanpa harus menggerus rasa nasionalisme untuk menghadapi globalisasi, baik sekarang ini maupun di abad ke-21 yang akan datang.

written by: Arini Agustina Silalahi