Mau Banyak Dapat Diskon Saat di Eropa? Bisa kok!

Tulisan ini semoga bisa membantu kamu yang mempunyai rencana untuk bepergian ke luar negeri, khususnya ke negara-negara di Eropa. Lumayan banget bisa dimanfaatkan¬†untuk mengirit keuangan saat disana ūüėÄ

Mungkin ada beberapa dari kamu yang belum tahu apa itu International Student Identity Card (ISIC)?

IMG_2571

Well, ini kartu cukup ajaib dan bermanfaat untuk aku saat aku lagi nggak di Indonesia. Bagi kamu¬†pelajar atau mahasiswa, Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) asal Indonesia biasanya ngga diakui di berbagai negara di Eropa. So, kamu ngga bisa dapat diskon dengan menunjukkan KTM kamu saat di negara tujuan. Nah, ini dia fungsinya ISIC…

Dengan menunjukkan ISIC, itu artinya kamu diakui sebagai pelajar/mahasiswa secara Internasional. Contohnya sewaktu aku lagi di Moscow dan Saint Petersburg, dengan menunjukkan ISIC, aku bisa keluar masuk berbagai museum dengan diskon yang lumayan besar, bahkan bisa gratis (tergantung kebijakan museumnya). Ngga cuma untuk tiket masuk museum aja, saat membeli tiket transportasi seperti train atau metro, ISIC juga bisa digunakan untuk dapat diskon harga mahasiswa (sebagai mahasiswa Ekonomi, aku harus bisa mengatur keuangan dengan baik. Hitung-hitung sekalian belajar jadi ibu rumah tangga yang bisa mengelola keuangan #lah #jadicurhat, hahaha)

Aku bikin ISIC di STA Travel yang lokasinya di daerah Kuningan, tepatnya di Allianz Tower disamping gedung KPK. (waktu dulu aku beli tiket pesawat dan travel insurance di travel itu, jadi sekalian bikin ISIC deh). Biaya bikin ISIC cuma 200ribu rupiah. I guess with that price, you can get more benefits. Anyway, I am not their marketer lohh hahaha, just want to share what i know :p

Ini websitenya, setau aku bisa juga bikin secara online:  www.isic.co.id

Semoga bermanfaat! ūüôā

Advertisements

Internasionalisme dan Indonesia

Manusia adalah makhluk yang bersekutu. Kalimat ini tepat menggambarkan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Bagi seseorang, dirinya akan sangat membutuhkan usaha besar dan sekalipun usahanya besar, belum tentu dia mampu memenuhi seluruh kebutuhannya jika semua hal dilakukan sendiri. Gambaran ini serupa dengan suatu negara. Menjadi bagian dari kumpulan negara-negara di dunia, suatu negara harus memiliki kepercayaan bahwa negaranya dapat memperoleh manfaat lebih besar dengan bekerja sama dengan negara lain dan saling mengerti satu sama lain tanpa adanya perselisihan dan perang. Inilah Internasionalisme.

Paham internasionalisme adalah hal krusial yang harus dimiliki suatu negara dalam berdiplomasi. Mengapa? Ya, inilah paham yang sebaiknya harus tertanam dalam diri manusia di negara manapun. Dunia sekarang ini adalah dunia global. Kalimat ‚Äúwhat you take is what you give‚ÄĚ adalah benar adanya. Kalimat itu tidak dapat terealisasikan tanpa adanya diplomasi. Berdiplomasi tanpa tertanamnya paham dan rasa internasionalisme bagi suatu negara hanya akan berdampak pada perselisihan.

Hidup dan berkembang dengan memiliki latar belakang pandangan sesuai pandangan dan budaya Timur, bukan tidak mungkin rasa internasionalisme itu dapat bertumbuh dalam diri bangsa Indonesia. Keterbukaan akan dunia internasional adalah penting, tetapi jauh lebih penting mempertahankan rasa nasionalisme yang ada. Internasionalisme dan nasionalisme tidak dapat disejajarkan, tetapi dapat berjalan secara bersamaan untuk mencapai suatu hal yang belum pernah dicapai oleh bangsa yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya, yaitu kemakmuran. Sulitnya hidup makmur untuk dirasakan masyarakat Indonesia, menjadikan Indonesia tak ayal selalu bergantung dengan negara lain. Hal ini dilakukan untuk setidaknya memperoleh hidup yang hanya sedikit makmur. Ya, miris memang.

Zaman berkembang dan globalisasi semakin merajai dunia. Urusan internasional adalah urusan yang tidak bisa lepas dari era sekarang ini. Menjadi negara yang memiliki peran besar di dunia bukanlah tentang seberapa besar kekuasaan negara itu, tetapi seberapa mampu negara tersebut berperan dan merangkul negara lain dengan menerapkan rasa hormat serta saling menghargai. Itulah bangsa yang besar.

Kehidupan Indonesia sekarang ini belum tentu menjadi refleksi kehidupan Indonesia di masa mendatang. Bukan tidak mungkin negara kita akan memiliki peran besar bagi negara-negara lain di dunia di abad ke-21. Mengelola dan mengembangkan seluruh sumber daya yang dimiliki Indonesia memang bukan perkara mudah, tetapi juga bukan perkara sulit ketika Indonesia mau berpikir lebih terbuka untuk melihat luas dunia luar. Membuka mata untuk lebih berkembang adalah hal yang penting untuk dapat bertahan di era global seperti sekarang ini. Persaingan bukan tidak mungkin menjadi semakin ketat di masa mendatang. Upaya bersaing untuk lebih menunjukkan kekuasaannya diantara negara-negara lain dapat terlihar jelas di beberapa negara sekarang ini. Perspektif inilah yang perlu dirubah. Kemajuan suatu negara adalah saat dimana negara tersebut dapat merangkul negara lain untuk dapat berkembang dan maju bersama. Disinilah peran mengapa rasa internasionalisme itu penting. Negara bisa maju bukan dengan perang kekuasaan, tetapi dengan rangkulan dan pemahaman untuk pentingnya saling bekerja sama.

Jika ada pertanyaan, ‚ÄúApakah Indonesia sudah siap untuk mengahadapi globalisasi?‚ÄĚ, tentu dengan lantang saya menjawab ‚Äúbelum siap‚ÄĚ. Indonesia masih jauh dari kata siap untuk hal itu. Indonesia masih belum mampu mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia begitu banyaknya di tanah Ibu Pertiwi. Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alamnya, tetapi ketidakmampuan sumber daya manusia asli pribumi memberikan peluang bagi warga asing untuk mengelolanya. Meminta bantuan negara lain untuk turut membantu mengelola sumber daya alam di negara kita memang bukan suatu kesalahan, selama hal tersebut sifatnya untuk memacu agar warga Indonesia yang sebelumnya tidak mampu mengelolanya menjadi mampu. Kenyataannya justru berbeda, bukannya sumber daya manusia di Indonesia menjadi mampu, tetapi justru menjadi ketergantungan. Hal ini yang membuat Indonesia justru menjadi buruh di negeri sendiri.

Sungguh menyedihkan jika melihat kenyataan dimana kekayaan alam Indonesia yang terbentang begitu luasnya tidak diberdayakan dengan bijaksana oleh berbagai pihak. Keuntungan besar yang seharusnya bisa kita dapatkan untuk menunjang pembangunan nasional negara kita, seolah hanya menjadi harapan yang kita gantungkan pada negara lain yang dapat mengelolanya. Amerika, Jepang, dan negara maju lainnya telah banyak yang berinvestasi di Indonesia. Hal ini seharusnya menjadi cambuk bagi Indonesia untuk semakin menyerap ilmu dari negara-negara tersebut untuk bisa diterapkan di negara kita agar kita bisa merealisasikan harapan untuk berdikari, dan lebih jauh berkembang dari sekarang ini, serta dapat siap memasuki kehidupan global.

Internasionalisme telah salah kaprah diartikan oleh masyarakat Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia hanya melihat bahwa paham internasionalisme dapat merusak budaya bangsa karena hanya akan membuat budaya barat masuk ke Indonesia dan Indonesia akan dikuasai asing. Perspektif ini sebaiknya harus kita ubah bersama. Jika kita terus berpikiran seperti ini, Indonesia tidak akan bisa berkembang. Banyak hal perlu dipelajari oleh bangsa Indonesia untuk lebih berpikiran terbuka. Kesalahan yang ada bukan masuknya investor asing di Indonesia, tetapi sumber daya yang dimiliki Indonesia masih terbatas, khususnya sumber daya manusia yang terlena dan ketergantungan dengan pihak asing. Jika saat investor asing membantu Indonesia dan Indonesia dapat belajar dari pihak asing tersebut serta menerapkannya sendiri agar tidak menjadi ketergantungan, saya meyakini bahwa hal itu dapat merealisasikan harapan bangsa Indonesia untuk dapat hidup berdikari. Nyatanya, hal tersebut masih hanya sebatas harapan belaka.

Kunci dari kesiapan Indonesia memasuki era globalisasi adalah pada manusianya. Untuk mencapai kemakmuran masyarakat dan kemajuan Indonesia adalah manusia yang berkualiatas. Berkali-kali rasanya tidak cukup untuk mengutarakan bahwa manusia adalah asset terpenting yang dimiliki oleh suatu negara. Berlimpahnya sumber daya alam dan sumber daya lainnya tanpa berkembangnya sumber daya manusia adalah sia-sia. Sama seperti sebuah perusahaan bisnis, penggerak utama untuk memperoleh banyak keuntungan adalah karyawannya. Sayang sungguh sayang, di Indonesia justru tidak jarang kita temukan perlakuan yang tidak memanusiakan manusia. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa manusia adalah asset suatu negara untuk bisa berkembang menjadi negara maju.

            Berbagai cara perlu dilakukan untuk memajukan sumber daya manusia di Indonesia. Faktor pendidikan, pelatihan, dan pengembangan diri sangat perlu diberikan oleh pemerintah bagi masyarakatnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya bukanlah masyarakat yang tidak dapat bersaing dengan masyarakat di negara maju. Tidak jarang dapat kita jumpai beberapa tokoh cerdas yang berasal dari Indonesia, tetapi jumlahnya masih terbilang sedikit. Disinilah peran pemerintah untuk turut serta mengembangkan potensi yang dimiliki masyarakatnya. Selain itu masyarakat juga harus lebih belajar dan terbuka dalam berpikir serta lebih luas memandang dunia luar sehingga paham internasionalisme dapat tertanam tanpa harus menggerus rasa nasionalisme untuk menghadapi globalisasi, baik sekarang ini maupun di abad ke-21 yang akan datang.

written by: Arini Agustina Silalahi

AEC Makin Dekat. Bagaimana Siasat Pemerintahan Baru?

Blognyakrisniy

AEC ASEANSumber ilustrasi: http://bit.ly/1tb7z4Z

ASEAN Economic Community diputuskan dipercepat pelaksanaannya. Akan dimulai dalam hitungan beberapa bulan lagi. Bukan pada Tahun 2020, seperti yang sebelumnya dijadwalkan. Dengan 2015 sudah di depan mata, sudah terlalu mepet untuk mempertanyakan siap-tidaknya Indonesia menghadapi AEC. Siap-tak-siap, toh Indonesia tetap harus menghadapinya dengan segala sumberdaya yang dipunya. Di antara yang perlu diwaspadai terkait Kedaulatan dan Keutuhan NKRI, sebagai dampak implementasi AEC 2015, adalah potensi terjadinya konflik Kebudayaan. Termasuk yang berbasis Agama. Perang asymmetric dan proxy war, yang membidik masyarakat, adalah instrumennya. Peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-69, pada 17 Agustus ini, bisa menjadi momentum tepat, untuk merenungkannya lagi. Masalahnya, ketika kredibilitas dan kepercayaan publik atas Pemerintah masih harus dioptimalkan, bagaimana menyiasati itu semua? 

Situasi hingga pungkasan tahun ini, bagi Pemerintahan baru yang akan dilantik Oktober 2014 nanti, akan jadi tantangan tak mudah. Salah satu agenda besar yang langsung menghadang di depan mata, adalah pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN, disingkat MEA. Ini, salah satu di antara isu ironik yang…

View original post 1,752 more words