Internasionalisme dan Indonesia

Manusia adalah makhluk yang bersekutu. Kalimat ini tepat menggambarkan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Bagi seseorang, dirinya akan sangat membutuhkan usaha besar dan sekalipun usahanya besar, belum tentu dia mampu memenuhi seluruh kebutuhannya jika semua hal dilakukan sendiri. Gambaran ini serupa dengan suatu negara. Menjadi bagian dari kumpulan negara-negara di dunia, suatu negara harus memiliki kepercayaan bahwa negaranya dapat memperoleh manfaat lebih besar dengan bekerja sama dengan negara lain dan saling mengerti satu sama lain tanpa adanya perselisihan dan perang. Inilah Internasionalisme.

Paham internasionalisme adalah hal krusial yang harus dimiliki suatu negara dalam berdiplomasi. Mengapa? Ya, inilah paham yang sebaiknya harus tertanam dalam diri manusia di negara manapun. Dunia sekarang ini adalah dunia global. Kalimat “what you take is what you give” adalah benar adanya. Kalimat itu tidak dapat terealisasikan tanpa adanya diplomasi. Berdiplomasi tanpa tertanamnya paham dan rasa internasionalisme bagi suatu negara hanya akan berdampak pada perselisihan.

Hidup dan berkembang dengan memiliki latar belakang pandangan sesuai pandangan dan budaya Timur, bukan tidak mungkin rasa internasionalisme itu dapat bertumbuh dalam diri bangsa Indonesia. Keterbukaan akan dunia internasional adalah penting, tetapi jauh lebih penting mempertahankan rasa nasionalisme yang ada. Internasionalisme dan nasionalisme tidak dapat disejajarkan, tetapi dapat berjalan secara bersamaan untuk mencapai suatu hal yang belum pernah dicapai oleh bangsa yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya, yaitu kemakmuran. Sulitnya hidup makmur untuk dirasakan masyarakat Indonesia, menjadikan Indonesia tak ayal selalu bergantung dengan negara lain. Hal ini dilakukan untuk setidaknya memperoleh hidup yang hanya sedikit makmur. Ya, miris memang.

Zaman berkembang dan globalisasi semakin merajai dunia. Urusan internasional adalah urusan yang tidak bisa lepas dari era sekarang ini. Menjadi negara yang memiliki peran besar di dunia bukanlah tentang seberapa besar kekuasaan negara itu, tetapi seberapa mampu negara tersebut berperan dan merangkul negara lain dengan menerapkan rasa hormat serta saling menghargai. Itulah bangsa yang besar.

Kehidupan Indonesia sekarang ini belum tentu menjadi refleksi kehidupan Indonesia di masa mendatang. Bukan tidak mungkin negara kita akan memiliki peran besar bagi negara-negara lain di dunia di abad ke-21. Mengelola dan mengembangkan seluruh sumber daya yang dimiliki Indonesia memang bukan perkara mudah, tetapi juga bukan perkara sulit ketika Indonesia mau berpikir lebih terbuka untuk melihat luas dunia luar. Membuka mata untuk lebih berkembang adalah hal yang penting untuk dapat bertahan di era global seperti sekarang ini. Persaingan bukan tidak mungkin menjadi semakin ketat di masa mendatang. Upaya bersaing untuk lebih menunjukkan kekuasaannya diantara negara-negara lain dapat terlihar jelas di beberapa negara sekarang ini. Perspektif inilah yang perlu dirubah. Kemajuan suatu negara adalah saat dimana negara tersebut dapat merangkul negara lain untuk dapat berkembang dan maju bersama. Disinilah peran mengapa rasa internasionalisme itu penting. Negara bisa maju bukan dengan perang kekuasaan, tetapi dengan rangkulan dan pemahaman untuk pentingnya saling bekerja sama.

Jika ada pertanyaan, “Apakah Indonesia sudah siap untuk mengahadapi globalisasi?”, tentu dengan lantang saya menjawab “belum siap”. Indonesia masih jauh dari kata siap untuk hal itu. Indonesia masih belum mampu mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia begitu banyaknya di tanah Ibu Pertiwi. Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alamnya, tetapi ketidakmampuan sumber daya manusia asli pribumi memberikan peluang bagi warga asing untuk mengelolanya. Meminta bantuan negara lain untuk turut membantu mengelola sumber daya alam di negara kita memang bukan suatu kesalahan, selama hal tersebut sifatnya untuk memacu agar warga Indonesia yang sebelumnya tidak mampu mengelolanya menjadi mampu. Kenyataannya justru berbeda, bukannya sumber daya manusia di Indonesia menjadi mampu, tetapi justru menjadi ketergantungan. Hal ini yang membuat Indonesia justru menjadi buruh di negeri sendiri.

Sungguh menyedihkan jika melihat kenyataan dimana kekayaan alam Indonesia yang terbentang begitu luasnya tidak diberdayakan dengan bijaksana oleh berbagai pihak. Keuntungan besar yang seharusnya bisa kita dapatkan untuk menunjang pembangunan nasional negara kita, seolah hanya menjadi harapan yang kita gantungkan pada negara lain yang dapat mengelolanya. Amerika, Jepang, dan negara maju lainnya telah banyak yang berinvestasi di Indonesia. Hal ini seharusnya menjadi cambuk bagi Indonesia untuk semakin menyerap ilmu dari negara-negara tersebut untuk bisa diterapkan di negara kita agar kita bisa merealisasikan harapan untuk berdikari, dan lebih jauh berkembang dari sekarang ini, serta dapat siap memasuki kehidupan global.

Internasionalisme telah salah kaprah diartikan oleh masyarakat Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia hanya melihat bahwa paham internasionalisme dapat merusak budaya bangsa karena hanya akan membuat budaya barat masuk ke Indonesia dan Indonesia akan dikuasai asing. Perspektif ini sebaiknya harus kita ubah bersama. Jika kita terus berpikiran seperti ini, Indonesia tidak akan bisa berkembang. Banyak hal perlu dipelajari oleh bangsa Indonesia untuk lebih berpikiran terbuka. Kesalahan yang ada bukan masuknya investor asing di Indonesia, tetapi sumber daya yang dimiliki Indonesia masih terbatas, khususnya sumber daya manusia yang terlena dan ketergantungan dengan pihak asing. Jika saat investor asing membantu Indonesia dan Indonesia dapat belajar dari pihak asing tersebut serta menerapkannya sendiri agar tidak menjadi ketergantungan, saya meyakini bahwa hal itu dapat merealisasikan harapan bangsa Indonesia untuk dapat hidup berdikari. Nyatanya, hal tersebut masih hanya sebatas harapan belaka.

Kunci dari kesiapan Indonesia memasuki era globalisasi adalah pada manusianya. Untuk mencapai kemakmuran masyarakat dan kemajuan Indonesia adalah manusia yang berkualiatas. Berkali-kali rasanya tidak cukup untuk mengutarakan bahwa manusia adalah asset terpenting yang dimiliki oleh suatu negara. Berlimpahnya sumber daya alam dan sumber daya lainnya tanpa berkembangnya sumber daya manusia adalah sia-sia. Sama seperti sebuah perusahaan bisnis, penggerak utama untuk memperoleh banyak keuntungan adalah karyawannya. Sayang sungguh sayang, di Indonesia justru tidak jarang kita temukan perlakuan yang tidak memanusiakan manusia. Sekali lagi perlu ditekankan bahwa manusia adalah asset suatu negara untuk bisa berkembang menjadi negara maju.

            Berbagai cara perlu dilakukan untuk memajukan sumber daya manusia di Indonesia. Faktor pendidikan, pelatihan, dan pengembangan diri sangat perlu diberikan oleh pemerintah bagi masyarakatnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya bukanlah masyarakat yang tidak dapat bersaing dengan masyarakat di negara maju. Tidak jarang dapat kita jumpai beberapa tokoh cerdas yang berasal dari Indonesia, tetapi jumlahnya masih terbilang sedikit. Disinilah peran pemerintah untuk turut serta mengembangkan potensi yang dimiliki masyarakatnya. Selain itu masyarakat juga harus lebih belajar dan terbuka dalam berpikir serta lebih luas memandang dunia luar sehingga paham internasionalisme dapat tertanam tanpa harus menggerus rasa nasionalisme untuk menghadapi globalisasi, baik sekarang ini maupun di abad ke-21 yang akan datang.

written by: Arini Agustina Silalahi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s